Seorang biksu dengan pakaian dekil datang ke rumah seorang saudagar kaya untuk meminta sedekah. Namun saudagar kaya itu merasa sebal melihat penampilan biksu dengan jubah yang kotor dan jelek. Sehingga ia mengusirnya dengan kata-kata kasar.
Beberapa hari kemudian. datanglah seorang biksu agung ke rumah saudagar kaya itu. Biksu tersebut mengenakan jubah keagamaan yang mewah dan berkilauan. Melihat penampilan sang biksu yang begitu agung, maka sang saudagar langsung menyuruh pelayannya untuk menyiapkan makanan vegetarian yang lezat demi melayani biksu tersebut.
Ketika makanan telah terhidang diatas meja, sang biksu segera menanggalkan jubah keagamaannya yang mewah, dan melipatnya dengan rapi, serta meletakkannya di atas kursi meja makan.
Setelah itu, ia berkata,"Kemarin aku datang dengan pakaian usang, dan anda mengusirku. Hari ini aku datang dengan pakaian mewah dan anda menjamuku. Tentunya makanan ini pasti bukan untukku, melainkan untuk jubah ini."
Setelah berkata demikian, sang biksu lalu meninggalkan sang saudagar yang kaget.
Sang biksu sambil berjalan, sambil melafalkan sebuah puisi :
"Kalau ternyata bukan aku yang dipuja,
melainkan pakaianku yang dihormati,
mengapa aku harus senang?"
"Kalau ternyata bukan aku yang dihina,
melainkan pakaianku yang dihina,
mengapa aku harus bersedih?"
Mendengar itu, sang saudagar merasa semakin malu.
Demikianlah manusia lebih menghormati apa yang tampak diluar saja : Penampilan, kekayaan, jabatan. Bukan PRIBADI orang itu sendiri.
Maka jikalau engkau dihormati orang, janganlah berbangga diri. Dan kalaupun tidak dihormati orang, jangan juga kita sedih dan kecewa. Karena kehormatan yang muncul dari apa yang melekat ditubuh kita adalah palsu. Dan kehormatan yang paling kekal adalah kepribadian yang bijak dan berhati nurani.
Tetaplah semangat dan mensyukuri berkah yang kita dapatkan.