Pages

22 September 2013

Menghargai Nasi dan Makanan


Kelaparan di Somalia
Tahukah anda. Data terakhir pada bulan Mei 2013 tentang kelaparan di Somalia menunjukkan angka yang mengejutkan. Dilaporkan sekitar  260.000 jiwa tewas akibat kelaparan di negeri tandus tersebut. Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi daripada tragedi kelaparan yang mengguncang dunia pada tahun 1992. Korban jiwa yang tewas pada saat itu ‘hanya’  mencapai 220.000 ribu jiwa. Apa yang terjadi di Somalia merupakan bencana kelaparan terparah dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Dan tragisnya separuh dari angka tersebut merupakan anak-anak dibawah lima tahun. 

Nah, itu adalah angka kelaparan di Somalia. Kalau seluruh dunia berapa?  Menurut data terakhir yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), jumlah penduduk dunia yang masih kelaparan mencapai 925.000.000 jiwa alias hampir 1 Milyar! Kalau kita hitung secara persentase, dari total 6 Milyar lebih penduduk dunia, masih ada sekitar 15 persen manusia yang tengah kelaparan. Jumlah yang sangat besar sekali. 


Baiklah, mari kita kesampingkan dulu data tersebut diatas. Saya mencoba mengingat kembali ketika beberapa hari yang lalu saya memenuhi undangan pernikahan sahabat saya di sebuah restoran di Pontianak. 

Saat itu pesta yang diadakan sungguh meriah. Hampir seribu undangan yang datang dengan pakaian rapi memenuhi hall tempat resepsi. Tentunya makanan yang disediakan pun tidak sedikit. Mulai dari nasi prasmanan dengan berbagai menu lauk yang menggugah selera, kue-kue atau pastry, desert (makanan penutup) seperti es krim, buah-buahan, salad, dan lain-lain. Belum lagi makanan pilihan lainnya seperti bakso, soto, dan sate. Sungguh makanan yang melimpah.

Namun apa yang terjadi selanjutnya sungguh membuat saya menggelengkan kepala. Kebanyakan tamu tidak pernah benar-benar menghabiskan makanannya. Mereka hanya mengambil untuk mencicipi, lalu meletakkannya begitu saja diatas piring. Setelah itu pelayan restoran datang dan mengambil piring-piring tersebut. Yang membuat saya makin illfeel adalah : setiap selesai makan, masih terdapat sisa nasi yang sangat banyak di atas piring mereka. Saya jadi berpikir, kalau tidak mampu menghabiskannya, kenapa harus mengambil begitu banyak? Ada juga yang menyisakan sedikit nasi diatas piringnya. Itu menurut saya lebih menjengkelkan. Hanya sisa sedikit nasi, kenapa tidak dihabiskan saja?

Itu baru nasi, belum makanan lainnya yang juga selalu bersisa dan tidak dihabiskan. Kalau semua sisa makanan itu dikumpulkan, coba hitung saja berapa makanan yang sudah terbuang dengan sia-sia. Dan tentu saja itu selalu terjadi di resepsi acara manapun di dunia ini. 

Ironis sekali, sementara di berbagai belahan dunia orang-orang bahkan anak-anak tengah kelaparan dengan kulit berbalut tulang, mengais-ngais sampah, atau pun menggigit akar pohon demi mengisi perut di bawah panasnya terik matahari, kita malah berpesta pora membuang-buang makanan. Coba kita hitung lagi berapa makanan yang kita buang? Kalau dikalikan dengan 5 milyar manusia yang hidup berkecukupan makanan, maka kita akan tahu bahwa makanan yang kita buang setiap hari teramat banyak. 

Betapa berharganya setiap butiran beras
Mari kita memakai logika kita. Seandainya 5 milyar manusia, setiap harinya 1 orang membuang 10 butir nasi saja. Maka 5 Milyar x 10 butir nasi = 50 Milyar butir nasi. Kalau didalam 1 kilo beras terdapat 50.000 butir nasi, maka nasi yang kita buang setiap hari adalah 1.000.000 Kilo alias 1.000 Ton per hari! Bayangkan saja, dengan nasi sebanyak itu berapa banyak manusia kelaparan yang bisa kita beri makan?

Makanan adalah berkah, makanan adalah rejeki yang tidak gampang kita dapatkan. Proses terbentuknya sebutir nasi tidaklah gampang. Kenapa tidak gampang? Mari kita teliti.

Petani harus mendapatkan dulu bibitnya. Lalu beras itu ditanam, dipelihara, dan harus mendapatkan sinar matahari dan air yang cukup. Kalau tidak ada air dan tidak ada matahari, apakah beras bisa jadi?
Selain itu, harus ada petani yang begitu ulet memeliharanya supaya tidak dimakan hama. Bahkan setelah jadi harus dipisahkan kulitnya. Setelah itu, harus melewati jalur distribusi yang panjang. Dari petani, diangkut dengan truk atau kapal, lalu sampai ke distributor, dan akhirnya ke toko. Nah, setelah beras sampai ke toko, apakah kita langsung bisa mendapatkan beras? TIDAK.

Kita harus mempunyai uang yang cukup untuk membeli beras tersebut. Karena itu kita harus kerja. Kita kerja setiap hari demi apa? Salah satu alasan kita kerja adalah demi makan kan? Maka setelah kita punya uang kita baru bisa membeli beras. Kalau kita tidak bekerja, darimana datangnya uang? Darimana datangnya beras?

Setelah kita mampu membeli beras, beras itu tidak bisa langsung dimakan. Harus dimasak, dan harus ada lauk yang menemani baru bisa disantap dengan nikmat.

Setelah kita menelaah semua proses sampai kita bisa mendapatkan beras, masihkah kita berpikir kalau beras mudah di dapat? Coba kita renungkan. Seandainya Tuhan tidak menurunkan hujan, apakah beras itu bisa tumbuh? Seandainya tidak ada petani yang menanam adakah beras yang bisa kita makan? Seandainya kita sakit dan tidak mampu mencari nafkah, apakah kita mampu membeli beras?

Marilah kita coba berandai-andai. Katakanlah tiba-tiba terjadi bencana besar di tempat tinggal kita. Misalnya kekeringan panjang, sehingga kita semua kehabisan makanan. Bahkan setetes air pun susah di dapat. Dan semua tumbuhan mati kekeringan. Pada saat itu kita semua hanya bisa terkulai lemas dengan kulit menghitam, dan tubuh yang kering bagaikan seonggok tulang. Tergolek tak berdaya di atas tanah kering dan retak. 

Dan pada saat itu, kita mengingat kembali betapa dulu kita membuang-buang begitu banyak makanan. Betapa banyak nasi yang kita sisakan diatas piring kita setelah makan. Begitu banyak makanan lezat yang kita buang. Kalau semua itu dikumpulkan mungkin bisa menjadi bukit. Dan tentunya itu semua lebih dari cukup untuk mengisi perut kita yang sekarang sangat-sangat kelaparan. Tidakkah hati kita akan sangat menyesal? Tidakkah kita akan mengatakan bahwa, aku dulu begitu bodoh membuang begitu banyak makanan. Sekarang aku sangat kelaparan setengah mati, baru menyadari makanan itu sangatlah berharga!

Itu hanyalah sebuah contoh dari saya. Tetap tidak menutup kemungkinan itu bisa terjadi pada kita suatu hari nanti bukan? Lagipula, sebagai seorang manusia beragama, terlepas dari keyakinan apapun kita pasti percaya bahwa makanan adalah salah satu berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kalau kita tidak menghargai berkah yang kita dapat, malah membuang-buangnya, apakah selanjutnya Tuhan masih mau memberikan untuk kita? Ada sebuah ajaran luhur dari negeri Cina yang berbunyi seperti ini, “Kalau anda membuang nasi hari ini, jangan salahkan Langit kalau besok anda kelaparan memohon nasi.”

Tanpa bermaksud menggurui, saya hanya ingin kita saling mengingatkan. Setiap makanan yang tesedia di atas piring kita merupakan berkah yang luar biasa. Kenapa dikatakan luar biasa? Karena makanan sulit di dapat. Buktinya saja hampir 1 Milyar manusia di dunia ini masih kelaparan. Kita sungguh harus mensyukuri setiap butir nasi yang masih dapat kita santap hari ini. Jangan lagi kita membuang makanan dengan sia-sia. 

Menghargai makanan adalah hal kecil, namun hal kecil ini mampu membuat perubahan besar di dalam hidup kita. Dengan menghargai makanan berarti kita belajar mensyukuri berkah. Dan menjadi manusia yang bersyukur akan membuat hidup kita lebih bermakna.