Nagarjuna, seorang buddha suci yang agung, ke mana-mana pergi hampir telanjang hanya terbungkus kain compang-camping.
Anehnya ia juga membawa mangkuk dari emas yang diberikan kepadanya
oleh raja yang pernah menjadi muridnya untuk tempat minta-minta.
Pada suatu malam ketika ia hendak membaringkan diri dan tidur di antara reruntuhan sebuah biara tua, ia melihat ada seorang pencuri yang bersembunyi di balik sebuah tiang.
Pada suatu malam ketika ia hendak membaringkan diri dan tidur di antara reruntuhan sebuah biara tua, ia melihat ada seorang pencuri yang bersembunyi di balik sebuah tiang.
"Kesini, ambillah
ini," kata Nagarjuna sambil mengacungkan mangkuk yang biasa
dipakai untuk minta-minta. "Dengan demikian engkau tidak akan
mengganggu saya pada waktu saya sudah tertidur."
Dengan senang hati pencuri itu merebut mangkuk itu dan pergi. Esok paginya ia kembali dengan mangkuk itu dengan suatu permohonan. Ia berkata, "Ketika engkau melepaskan mangkuk ini dengan hati yang begitu bebas tadi malam, engkau membuat saya merasa begitu miskin. Ajarilah saya untuk memperoleh kekayaan yang menumbuhkan ketidakterikatan hati yang begitu bebas."
Tidak seorang pun dapat merebut dari padamu hal yang tak pernah engkau rebut bagi dirimu sendiri.
Sumber : (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)
Dengan senang hati pencuri itu merebut mangkuk itu dan pergi. Esok paginya ia kembali dengan mangkuk itu dengan suatu permohonan. Ia berkata, "Ketika engkau melepaskan mangkuk ini dengan hati yang begitu bebas tadi malam, engkau membuat saya merasa begitu miskin. Ajarilah saya untuk memperoleh kekayaan yang menumbuhkan ketidakterikatan hati yang begitu bebas."
Tidak seorang pun dapat merebut dari padamu hal yang tak pernah engkau rebut bagi dirimu sendiri.
Sumber : (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)
No comments :
Post a Comment