Pages

22 May 2014

Berbelas Kasih kepada Pengemis? Haruskah?

Sungguh sangat mengganggu manakala dalam keadaan batuk keras, setelah singgah di sebuah apotek untuk membeli obat batuk, namun seorang bocah gembel menghampiriku sembari menjulurkan tangan, meminta barang 1000-2000 Rupiah.
Bukan bocah tepatnya. Mungkin ABG berumuran 15 atau 16 tahun mungkin. I don't know. Tapi aku langsung menggeleng, mengisyaratkan aku tidak akan memberikan sepeserpun kepadanya. Tidak menyerah, dia langsung berbalik arah menyasar beberapa orang yang juga singgah berbelanja obat di apotek tersebut.
Well, bukan hanya karna moodku jelek karena batuk yang tak kunjung sembuh, lantas mempengaruhi suasana hatiku untuk memberikan sumbangan kepada bocah tersebut. Namun aku punya prinsip yang kupegang erat. Dan yah, aku bersikeras dengan prinsip tersebut.

Bukan karena aku tidak punya hati atau tidak bisa iba. Namun pertanyaannya adalah: apa yang mau diibakan dari seorang pemuda yang masih kuat dan sehat, yang masih bisa mencari nafkah namun malah memilih meminta-minta kesana kemari??
Sungguh. Saya bingung kenapa orang-orang seperti ini masih bisa mendapatkan iba dari sebagian orang. Tentu lain ceritanya kalau pengemis itu adalah orang cacat, sakit, ataupun orang tua renta yang intinya memang sungguh tidak mampu mencari nafkah lagi. Namun saya sangat keberatan menyumbang kepada orang-orang yang sekiranya masih mampu mencari rejeki tetapi malah mengambil jalan pintas meminta-minta.
Tentu ini bukanlah masalah uang. Ini juga bukan masalah cinta kasih atau apapun. Namun apabila kita terus memanjakan orang seperti itu dengan iba kita, kita akan terus membuat mereka terbuai. Kita akan terus mendorong mereka untuk meminta-minta. Dan akhirnya di jalanan akan penuh dengan orang-orang bermental sampah yang tidak mau bersusah payah mencari nafkah. Kalau begitu bukankah kita sama saja membantu mendorong bangsa kita menuju kehancuran mental?
Apa jadinya bangsa ini kalau setiap jalanan kota dipenuhi orang seperti ini?
Berbelas kasihan adalah hal yang mulia. Tidak ada masalah dengan itu. Namun apakah kita berbelas kasihan kepada orang yang tepat? Belas kasihan kadang seperti dua mata pisau. Kadang benar-benar bermanfaat apabila kita menggunakannya secara tepat kepada orang yang tepat. Namun kalau kita tidak arif menggunakannya, maka justru akan makin memerosotkan harga diri bangsa kita. Itu pendapat saya.
Mungkin ada yang setuju ataupun tidak setuju. Namun terlepas dari itu, pro dan kontra adalah hal yang sangat wajar. Semua ini hanyalah pandangan pribadi saya semata. Semoga dapat menjadi renungan untuk kita semua.

No comments :

Post a Comment