Pages

31 May 2014

Hikmah dari Kesakitan

Saat itu jam sudah menunjukkan 21.15. Aku pun semakin terbuai lelah sembari mengutak ngatik hp, ritual rutin yang tak bisa kutinggalkan di saat santai seperti ini.
Namun rasa lelah tiba-tiba terusik ketika terdengar suara dentuman keras yang didahului geraman mesin motor dan decitan ban. Aku tersentak kaget. Apalagi terdengar tangisan kuat kedua anakku setelahnya.
Dengan gegas, aku melompat dari kasur dan berlari turun ke lantai 1. Jantungku berdegup kencang. Orangtua mana yang tidak cemas dalam posisi seperti ini. Setibanya diluar, kudapati putra pertamaku menangis dengan luka di sikunya. Disampingnya nampak adik iparku, Edy juga terluka di kakinya.
"Ada apa??" Tanyaku cemas.
Istriku sambil menggendong putraku yang menangis menjawab, "Anak ini sungguh nakal. Edy mau membawanya keliling sekitar dengan motor. Namun belum sempat Edy naik ke atas motor, Louis (nama anakku) tiba-tiba memutar handle gas sehingga motor berjalan sendiri tanpa kendali dan terpental!"
Putra pertamaku sebenarnya tidak nakal. Namun terkadang kejahilannya muncul begitu saja. Terkadang saat aku membawanya mengendarai motor, dengan posisinya duduk di depan (karena tubuhnya kecil), dia sering jahil ingin mencoba memutar handle gas. Tentu saja itu sangat berbahaya. Dan aku sering memarahinya untuk tidak melakukan itu. Namun sepertinya peringatanku tidak pernah diindahkannya. Maklum, baru berumur 4 tahun.
Namun sekarang, akhirnya dia benar-benar merasakan akibat kejahilannya. Bergegas aku membersihkan lukanya terlebih dahulu dengan obat antiseptik, baru kutempelkan plester luka. Sepanjang itu, dia menangis terus tiada henti. Aku menggendongnya. Setelah agak tenang, aku kemudian membawanya ke tempat tidur.
Setelah membaringkannya, aku lantas bertanya kepadanya.
"Louis.. Masih berani mainin gas motor?"
Dia kembali menangis sejadi-jadinya dan menjawab tidak berani. Berkali-kali aku tanyakan lagi, dan dengan wajah ketakutan dia terus menjawab tidak berani lagi berbuat seperti itu.
Terkadang Tuhan selalu ingin memberitahu kita. Bahwa kita gak boleh begini, kita gak boleh begitu. Namun kita manusia selalu bandel. Tidak pernah mau mendengar dan memahami. Saat kita berbuat salah, Tuhan selalu memperingatkan melalui orang sekitar kita ataupun kejadian-kejadian dalam keseharian kita. Namun kita terlalu keras kepala.
Analogi yang pas untuk ini adalah, Tuhan selalu memanggil kita, ingin memberitahukan bahwa ada lubang di depan mata kita. Namun kita terus berjalan membabibuta. Dan ketika kita masih tidak mendengar, Tuhan terpaksa mengambil sebuah batu dan melemparkan ke kepala kita. Aww! Kita pasti berteriak kesakitan, dan pasti menoleh.
Kesakitan bukanlah hal yang buruk. Dengan melalui kesakitan kita baru bisa belajar. Kesakitan mendidik kita, supaya kita tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Melalui kesakitan 'kecil' kita disadarkan supaya kelak kita tidak mendapatkan kesakitan yang lebih besar.
Sama seperti putraku. Kali ini dia mendapatkan kesakitan kecil, namun dia telah belajar sesuatu. Seandainya dia tidak melewati kesakitan 'kecil' ini, siapa yang tahu bahwa dia akan berani lagi memutar handle gas motor tepat di jalan raya yang mana akan lebih membahayakan.
Well, life is full of lessons. Tuhan telah mengajari anakku satu hal baik lagi. Dibalik kesakitan selalu ada hikmah. Anda setuju?

No comments :

Post a Comment