Pages

10 June 2016

Asal Usul Bakcang

Qu Yuan adalah seorang pejabat yang bertugas sebagai penulis surat-surat diplomasi di kerajaan. Di antara semua menteri dan pejabat, beliau termasuk sebagai senior yang bertahan. Pada masa itu sebagian besar pejabat melakukan korupsi di kerajaan, dan suka menjilat raja.
Tinggallah Qu Yuan yang berpendirian teguh, tetap berperilaku bersih di tengah kekeruhan. Berkali-kali para pejabat berusaha mempegaruhi beliau, namun usaha ini sia-sia. Lama-kelamaan Qu Yuan dianggap sebagai batu sandungan yang membahayakan. Seandainya ‘si bersih’ keluar dari kerajaan, tentu mereka dapat lebih leluasa berbuat apa saja untuk mendapatkan kesenangan di dalam kerajaan. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk menyingkirkannya.

Saat itu Dataran China terbagi menjadi 7 negara, yaitu Chin,  Chu, Chi, Yen, Han, Cao, Wei . Negara Chin yang kuat sering menindas Negara Chu, tempat kelahiran Qu Yuan. Qu Yuan yang memiliki kecakapan dalam bertugas dengan sepenuh hati ingin menguatkan kembali negaranya, dengan bekerjasama dengan negara Chi. Namun para pejabat yang tidak senang dengan Qu Yuan memburuk-burukkan nama Qu Yuan . Surat diplomasi Qu Yuan dipalsukan, sehingga beliau dituduh sebagai pengkhianat kerajaan. 

Mengingat budi Qu Yuan sebagai pejabat senior, hukuman yang diberikan sebatas pengasingan ke sebuah desa terpencil. Hukuman seperti ini memang secara fisik tidak menyakitkan, tapi sangat menjatuhkan martabat dan mengiris hati. Kenyataan pahit pun harus diterima. Perjalanan hidup Qu Yuan berubah drastis, dari seorang pejabat senior menjadi ‘orang buangan’. Masyarakat memandangnya sebagai pengkhianat kerajaan, sehingga siapa saja yang berpapasan akan membuang muka dan meludah di hadapan beliau. Setiap Ia datang di keramaian, orang akan berbisik-bisik membicarakan dan memaki ‘kejahatan’ yang dilakukan.

Kepahitan ini beliau terima dengan tabah. Namun hatinya teriris, bergejolak dalam penyesalan yang mendalam. Bukanlah ketidakadilan raja yang ia sesalkan, atau kekejian para pejabat licik. Ia merasa bersalah dan lalai dalam melindungi raja dari kejahatan para menteri. Ia menyadari bahwa sesungguhnya kenyataan pahit yang ia terima bukanlah kehendak raja, tapi karena ulah para pejabat. Di sinilah letak kemuliaan beliau. Walau mendapatkan perlakuan yang tak adil dari raja, dalam hatinya Qu Yuan tetap setia. 

Selama di pengasingan, tak henti-hentinya Qu Yuan mencemaskan keselamatan raja dari rencana jahat para menteri. Isi hatinya beliau tuangkan ke dalam syair-syair yang kemudian dikirim untuk sang raja. Bertahun-tahun ia menulis syair untuk raja, namun sesungguhnya tak satu pun yang sampai ke tangan raja, karena para menteri sudah mencegahnya.

Suatu hari terdengar kabar bahwa kerajaan telah dikalahkan oleh Negara Chin. Sang raja yang dicintainya tewas dengan tragis oleh kebodohan para menteri. Tragedi ini mengguncangkan kerajaan, dan dengan cepat kabar ini tersiar ke seluruh penjuru. Kabar duka ini bagaikan sambaran petir yang telak mengenai diri-Nya. 

Rasa sesal menyesakkan dadanya, “Sungguh, tak banyak yang telah kuperbuat bagi raja. Jika keselamatan raja saja kuabaikan, apalah artinya hidupku! Sungguh tak berguna!” Syair belum rampung, namun pena tinta dilepaskannya dari genggaman tangan. Sang pejabat setia yang telah mengabdi penuh dan menelan sejuta kepahitan, dalam penyesalannya menenggelamkan diri ke dalam sungai untuk menyusul kematian sang raja. Peristiwa tersebut jatuh pada tanggal 5 bulan 5 (Imlek).

Saat  Qu Yuan menenggelamkan diri, seseorang melihatnya dan berusaha menyelamatkan beliau. Akhirnya masyarakat mengetahui bahwa orang yang menenggelamkan diri itu tak lain adalah Qu Yuan, pejabat bersih yang selama ini mereka tuduh sebagai pengkhianat. Masyarakat menyesal, bahwa orang yang selama ini mereka sudutkan, mereka caci, justru sesungguhnya adalah pejabat yang paling jujur.

Dengan perahu naga, berbondong-bondong mereka mencari Qu Yuan ke dalam sungai, namun tetap tubuhnya tak ditemukan. Tak lama kemudian mereka kembali ke tengah sungai, membawa potongan batang bambu berisi nasi dan sayur. Setibanya di tengah sungai, batang bambu ini ditebarkan ke dalam sungai, dengan harapan agar ikan-ikan di dasar sana tidak menggigiti tubuh Qu Yuan, tapi memakan nasi yang mereka tebarkan.

Untuk mengenang jasa dan kebesaran jiwa sang pejabat mulia ini, setiap tahun masyarakat Tionghoa membuat kue ‘Cang’. Batang-batang bambu digantikan dengan daun bambu sebagai pembungkus nasi. Pada hari tersebut, mereka menebar kue ini ke tengah sungai, danau, ataupun sumur terdekat. Hari yang agung ini dikenal sebagai ‘Festival Duan Wu’ (Duan Wu Jie 端午节).


Masyarakat Tionghoa juga memperingati peristiwa ini dengan mengadakan lomba mendayung perahu naga. Konon, sehari setelah wafatnya Sang Pahlawan, masyarakat di sekitar sungai sembuh dari berbagai penyakit, setelah berenang di sana tepat pada tengah hari (sesuai dengan peristiwa tenggelamnya Qu Yuan). Kini hal tersebut telah menjadi tradisi, di mana pada hari yang sama masyarakat akan berenang pada tengah hari.

Kini Qu Yuan yang setia dan jujur telah tiada, namun pribadi agungnya abadi dalam sejarah umat manusia. Kejahatan dapat membohongi kita sementara waktu, namun pada akhirnya Kebenaran akan selalu terbukti. Demikianlah Hukum Keadilan Semesta. Demikianlah Kebenaran Sejati yang sangat jelas di mata TUHAN.

Sejarah mencatatnya sebagai pahlawan dalam kesunyian, pejabat yang setia dalam kebisuan. Kesetiaan, ketabahan, dan kejujuran beliau mengantarkanya pada gelar suci sebagai De Wei Jiang Jun (Jenderal De Wei, De=kebajikan, Wei=Wibawa). 

Demikianlah riwayat singkat perjalanan hidup Qu Yuan. Semoga pribadi luhur beliau menjadi teladan sekaligus menyentuh dasar Nurani kita, menggugah kesadaran kita untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: Buku "Kisah Para Buddha dan Para Suci" .

No comments :

Post a Comment