Beliau adalah seorang keturunan berdarah biru sekaligus pewaris tahta.
Seorang Pangeran. Hidup dalam kemewahan di dalam istana yang megah dan sangat dihormati oleh rakyatnya.
Hidupnya memang nyaris sempurna;
Anak dan istri yang baik, orang tua mencintainya, dihormati rakyat dan tahta kerajaan miliknya.
Nyatanya setelah 29 tahun, di purnama bulan Uttarasalha ketika manusia sedang lelap dia memacu kudanya sampai ke tepi sungai Anoma. Memotong rambut melepas jubah kerajaan,
meninggalkan atribut duniawinya memasuki kehidupan pertapaan.
Dari glamor seorang manusia, dia bermetamorfosis menjadi pertapa miskin tanpa materi apapun.
Semua ini terjadi dalam sekejap mata.
Berbekal kain di badan dan patra,
Dia Sidharta yang kemudian dikenal sebagai
pertapa dari keluarga Sakya alias Sakyamuni.
Apa yang dicarinya ?
Seorang pangeran serba dilayani dari ujung kaki ke ujung rambut,
tiba-tiba dihadapkan kenyataan diri sendiri. Kecamuk perasaan yang menggelora hebat ketika cintanya kepada Yasodhara dan Rahula membalik memukul jiwanya.
Sepatah kata bahkan belum terucap ketika Sang
Pangeran memaksa diri meninggalkannya. Seorang diri, kesepian di tengah hutan sungguh-
sungguh tak terbendung.
Kesendirian menerbitkan kerinduan yang semakin
mencabik-cabik hatinya.
Setiap matahari telah tenggelam hati sudah terteror.
Hidupnya luar biasa tak mudah.
Di panas siang hari terpanggang terik, di musim
penghujan sekujur badan menggigil kedinginan diguyur air hujan.
Baju basah kering di badan.
Perut kosong sampai kenyang sendiri.
Ketika malam menjelang hanya ada gelap sejauh mata memandang.
Suara desir angin dan binatang malam sungguh
menakutkan dan menyiksa.
Ketika kesepian sudah menjadi kebiasaan, pertapa muda berteman dengan kesendiriannya
Mulai berkonsentrasi mengembangkan tapa geni sampai meditasi menghentikan pernafasan.
Semuanya tak membuahkan hasil.
Sehingga Sakyamuni mencoba metode eksternal; menyiksa diri.
Hanya makan sekali seminggu, itupun setangkup nasi.
Kadang-kadang makan tanaman liar.
Rambut dan jenggot kotor panjang terurai. Berbaring di atas paku. Hingga nyaris mati. Semua kekerasan, penderitaan dan kesendirian tak ada pilihan kecuali ditelannya.
Dari hari ke hari hingga enam musim panas tak dinyana telah berlalu.
Membalik lihat masa dengan berbagai jalan yang ditempuh ternyata hanya tetap meninggalkan jiwa yang tak menemukan jawab.
Jiwanya nelangsa mencari-cari Sang Aku tak dilahirkan, azaliah tak berubah dalam arus samsara.
Sejak dari berguru kepada Alara, Kalama dan Uddaka Ramaputta.
Masing-masing adalah petapa yang dikenal dengan tingkat yogis ruang tanpa eksistensi dan
ruang tiada pikiran maupun non-pikiran.
Namun kedua pembinaan tidak menjawab jiwa Sakyamuni.
Juga pembinaan ekstrim menihilkan badan tidak saja tak membawa hasil tetapi nyaris membunuhnya.
Pembinaan asketik yang keras menyebabkan Sakyamuni kehilangan kesehatannya;
Badan kurus berbalut tulang seakan semangat hidup telah terbang.
Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuhnya.
Keadaan yang jika berlanjut hanya akan mengundang kematian.
Pada keadaan kritis inilah lewat para dewa dalam penyamarannya sebagai rombongan penyanyi mendendangkan gita tentang gitar; jika senar terlalu kencang ataupun kendor, suara gitar
kehilangan sentuhannya.
Dengan kebijaksanaannya, Sakyamuni spontan menangkap kebenaran bahwa dia adalah gitar yang kekencangan setelan senarnya.
Sungguh dia tak pantas menyerah diri kepada kematian demi mempertahankan pola latihan menyengsarakan diri yang terlalu ekstrem, Sakyamuni pun membangun kembali
kesehatannya dengan menerima makanan dari Sujata.
Setelah pulih, di hutan Uruvela Sakyamuni meneguhkan ikrar buddhata dan memasuki meditasi.
Tahapan-tahapan meditasi dilaluinya secara
berkesinambungan.
Pertama dengan melepas ketercekatan kepada rupa,
Kedua, memasuki kesempurnaan konsentrasi dan lahirlah gelombang perasaan bahagia,
Ketiga, rasa tak lagi mengikat dan genaplah kedamaian yang meraja.
Tahap terakhir adalah transendensi segala rupa, cita dan rasa.
Meditasi ini dapat diibaratkan masa menyemai sawah alias mempersiapkan diri menuai Pencerahan.
Dalam ketransendenan ini, penglihatan Sakyamuni menembus setiap inkarnasi dirinya. Kemudian beranjak di tengah malam,
Sakyamuni melihat dengan Mata Nirwanik (bebas samsara) timbul-tenggelamnya kehidupan demi kehidupan.
Hingga ketika bintang fajar berkedip terang di subuh hari,
Sakyamuni memenangkan Pencerahan Sempurna di Purnama Waisaka 531 SM.
Mata Nirwanik telah terbuka dan mengurailah
sutra tak beraksara; luas jagat semesta tak keluar dari Aku dan kecil partikel debu tak terhindar
dari eksistensi Aku.
Sesungguhnya Aku adalah Wajah alam dan segala isinya.
Aku yang telah ada sebelum langit dan bumi
diciptakan.
Aku yang merupakan bagian langsung dari Roh Tuhan yang abadi, dialah Hati Nurani.
Sang Kebenaran Tertinggi yang sudah ada di dalam diri setiap insan.

No comments :
Post a Comment